Betung, 20 September 2025 – Di tengah derasnya arus modernisasi, warga Desa Betung, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, masih setia merawat sebuah tradisi unik: mengukir pinang. Tradisi ini sudah dikenal turun-temurun sebagai simbol keindahan, ketekunan, dan doa yang dipersembahkan dalam berbagai upacara adat.
Menurut penuturan tokoh adat setempat, tradisi mengukir pinang biasanya dilakukan menjelang pesta adat seperti pernikahan. Pinang dipilih bukan tanpa alasan, karena sejak lama buah ini menjadi bagian penting dalam budaya Melayu Jambi, baik sebagai pelengkap sirih maupun lambang kehormatan.
“Pinang yang diukir bukan hanya hiasan, tapi punya makna. Motif ukiran melambangkan doa agar hidup rukun, rezeki lancar, dan hubungan sosial tetap erat,” jelas Bima Suprianto, salah satu Anggota Lembaga Adat Melayu Desa Betung.
Makna Tradisi Mengukir Pinang
-
Simbol Kehormatan dan Penyambutan Tamu
Pinang yang diukir indah melambangkan penghormatan bagi tamu. Dalam adat Jambi, menyajikan sirih pinang (sirih, pinang, kapur, gambir) yang sudah diukir adalah wujud keramahan tuan rumah kepada tamu.
-
Lambang Persatuan dan Kebersamaan
Proses mengukir pinang biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh kaum perempuan. Ini mempererat tali silaturahmi, kebersamaan, dan gotong-royong antarwarga.
-
Warisan Nilai Adat dan Budaya
Mengukir pinang bukan sekadar keterampilan tangan, tetapi juga media untuk menanamkan nilai-nilai adat kepada generasi muda. Tradisi ini menjadi sarana pewarisan budaya dari orang tua kepada anak cucu.
-
Simbol Doa dan Harapan
Pinang yang diukir lalu disajikan dalam acara adat, terutama pernikahan, mengandung doa dan harapan. Ukiran indah melambangkan keikhlasan dan doa agar acara berlangsung lancar serta membawa kebahagiaan.
-
Identitas Budaya Masyarakat Jambi
Tradisi ini menjadi ciri khas masyarakat Jambi yang membedakan mereka dengan daerah lain. Mengukir pinang merupakan identitas budaya yang memperkaya keragaman adat Nusantara.
Kreativitas Anak Muda
Menariknya, saat ini tradisi mengukir pinang tidak hanya dijalankan oleh kalangan tua, tetapi juga mulai digemari anak-anak muda. Para remaja desa belajar dari orang tua mereka untuk menghasilkan ukiran bermotif bunga, sulur, dan bentuk geometris. Bahkan, sebagian mencoba menggabungkan motif tradisional dengan kreasi modern, sehingga hasilnya lebih menarik.
Peluang Wisata Budaya
Lembaga Adat Melayu Desa Betung melihat potensi tradisi ini sebagai daya tarik wisata budaya. Di era digital sekarang ini, pemuda desa disarankan untuk sering kali mengunggah karya mereka ke media sosial, sehingga tradisi ini mulai dikenal lebih luas dan menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke Desa Betung. Beberapa ukiran pinang alangkah indahnya untuk dipajang di Kantor Desa dan galeri kecil milik warga, sementara sisanya dijual sebagai cenderamata.
“Kami ingin menjadikan tradisi mengukir pinang ini sebagai ikon budaya desa. Nantinya bisa digelar lomba ukir pinang setiap tahun untuk menarik wisatawan, di era digital sekarang ini, pemuda desa diharpkan untuk sering kali mengunggah karya mereka ke media sosial, sehingga tradisi ini mulai dikenal lebih luas dan menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke Desa Betung. Serta beberapa ukiran pinang alangkah indahnya untuk dipajang di Kantor Desa, sementara sisanya dijual sebagai cenderamata.” kata Anggota LAM Desa Betung penuh harap.
Harapan Pelestarian
Masyarakat berharap tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang seiring zaman. Dengan dukungan dari pemerintah desa, tradisi mengukir pinang diyakini bisa menjadi identitas khas umumnya Provinsi Jambi khususnya Desa Betung.
Dengan demikian, tradisi mengukir pinang bukan sekadar warisan, melainkan juga wujud kreativitas dan jati diri masyarakat desa yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.